Breaking News

KESAN DAN CURHAT ORTU DALAM PENDAMPINGAN BELAJAR ONLINE

BELAJAR DI KALA PANDEMI CORONA

          Sekolah mulai menerapkan Sekolah dari rumah sekitar bulan Maret. Kala itu anak saya duduk di kelas 7G. Oh iya perkenalkan nama saya Widya ibu dari Diaz Raisya Ramadhani. Awalnya pembelajaran online, tugas-tugas dari setiap mata pelajaran banyak dan dikejar waktu.

Pukul 06.00 – 07.00 pagi tugas sudah diberikan dan batas waktu pengumpulan pukul 4 sore. Anak saya mengeluh … Oh sudah pasti itu he he he …. Bagaimana lagi itu kebijakan sekolah? …

          Hampir sebulan tugas banyak sekali tapi di bulan berikutnya tugas sudah mulai banyak berkurang. Dilematis sekali bagi orang tua jika dulu HP dibatasi penggunaannya, tapi sekarang karena belajar dari rumah mau tidak mau HP jadi seperti kebutuhan utama.

          Kuota merupakan hal penting yang mendukung kegiatan ini. Alih-alih mengerjakan tugas sekolah, anak jadi leluasa bermain game dan yang dijadikan tameng pelindung adalah mengerjakan tugas sekolah padahal aslinya asyik main game.

          Itu sudah problem semua orang tua dan saya juga salah satu yang mengalaminya he he he … Saya menertawakan diri saya sendiri karena kadang masih kecolongan juga. Sepintar-pintarnya orang tua kadang anak-anak juga akalnya luar biasa.

          Mereka merindukan serunya suasana sekolah, merindukan guru, dan temannya serta merindukan kesibukan mengikuti ekstrakulikuler. Dari kegiatan belajar dari rumah saya coba terapkan kemandirian dan tanggung jawab.

          Sejak anak saya naik kelas dari kelas 7 ke kelas 8 ini, saya ajak anak berdiskusi, mengeluarkan uneg-unegnya, dan menceritakan apa yang ada di pikirannya. Bosan itu kata yang dia ucapkan,kangen suasana sekolah dan lain-lainnya. Saya sambungkan email anak saya ke HP saya… karena kebetulan dua anak saya. Adiknya duduk di kelas 6. Jadi email keduanya ada juga di HP saya.

          Semua tugas yang masuk ke email keduanya saya tahu… Saat kelas 8 ada grup WA per mata pelajaran di mana saya tidak mungkin masuk ke sana jadi saya tekankan ke Diaz belajar tanggung jawab dalam mengerjakan tugasnya… Baca, pahami, dan laksanakan. Saya tidak menuntut dia masuk peringkat kelas. Yang saya inginkan rasa tanggung jawab dan bisa saya percaya.

          Buktikan bahwa dirimu bisa menggunakan kepercayaan dengan baik. Karena saya nggak mungkin tiap hari ngomel-ngomel atau marah hanya karena masalah tugas sekolah.

          Haruskah saya oprak-oprak tiap hari? Saya hanya akan tanya tugas hari ini sudah dikerjakan… Dia jawab sudah … Saya akan minta mana tugasnya? Coba saya lihat dan saya cek!

          Apakah mulus begitu? … Oh tidak saudara-saudara! … Masih ada dramanya.

Tugas ini sudah dikerjakan? Oh itu batas waktunya masih seminggu lagi… Nanti aku kerjakan.

Oh iya tugas yang ini bagaimana? … itu harus pakai gambar … Aku males gambarnya atau aku mentok sudah nggak punya ide atau aku nggak bias, dan berbagai alasan lainnya yang anak saya kemukakan. Jika ada kesulitan saya sampaikan ke anak saya, mengerjakannya tunggu saya pulang berjualan (saya keluar dari rumah pukul 10.00 – 16.00) atau tunggu ayahnya pulang kerja (kisaran jam 16.00 juga). Nanti akan dijelaskan atau diterangkan terlebih dulu.

          Karena kadang sudah cari di google baru paham setelah dijelaskan. Nggak apa itu wajar dan jadi ada kedekatan psikologi antara orang tua dan anak.

Oke… fix… terserah Diaz saja. Saya bilang begitu karena saya belajar mempercayainya … Pokoknya saat mengumpulkan ke sekolah semua tugas sudah siap dan saya cek. Jika ada yang tidak dikerjakan silakan tanggung sendiri resikonya.

          Naik ke kelas 8 Diaz ada di peringkat 5. Alhamdulillah… di kelas 8 ini juga nilainya masih di atas KKM,sebenernya ada 1 mata pelajaran di bawah KKM karena sekarang masih tengah semester semoga nanti masih bisa ditingkatkan lagi agar nilainya semua di atas KKM.

          Ada hal positif selama pandemi Corona, Diaz jadi belajar memasak. Setidaknya nasi goreng, bakmi, dan bikin sambalpun dia bisa… Kadang masak oseng kerang atau ayam geprek. Kalau masak indomie sudah pasti jago. He he he. Oh iya bantuan kuota dari pemerintah sangat membantu kegiatan belajar dari rumah ini. 5G kuota utama dan 30G kuota pendidikan.

          Kuota pendidikan saya arahkan ke Duolingo atau Bahaso (untuk belajar bahasa Inggris dan bahasa Jepang, Diaz sendiri yang tiba-tiba ingin mempelajarinya)

          Untuk penguasaan bahasa Inggris daripada main game saja coba saya downloadkan Film-film yang bagus untuk meningkatkan Bahasa Inggrisnya seperti Harry Potter dari seri 1 (Sorcerer stone sampe seri terakhir Deathly Hallows)  dan ternyata kakak adik suka semua Film-film Harry Potter), Film dari Marvel studio pun mereka suka. Dari Spiderman, Dr Strange, Capten America hingga Avenger seri 1 (Age of ultron) hingga Avenger End Game. Biar skill bahasa Inggrisnya meningkat,belajar speaking dan listening yang kelak bermanfaat di masa depan

          Demikianlah kesan saya selama belajar dari rumah. Menerapkan kemandirian, tanggung jawab dan mencoba menggali hobi barunya yaitu memasak dan menonton film.

          Besar harapan saya anak-anak bisa bersekolah kembali dengan menerapkan protokol kesehatan tentunya seperti pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan, atau bawa hand sanitizer dan bawa bekal dari rumah.

          Anak-anak merindukan interaksi belajar mengajar yang menyenangkan tidak hanya pemberian tugas seperti selama ini. Semoga kota Batu zona hjiau sehingga anak-anak nyaman bersekolah dan beraktifitas di luar rumah tanpa rasa khawatir akan Corona.

Widya Harianti

No HP 0822 30 924921

Wali Murid dari : Diaz Raisya Ramadhani 8E/11